Pengantar: Mengapa Kisah Nabi Musa Begitu Istimewa?
Di antara sekian banyak kisah para nabi yang Allah abadikan dalam Al-Qur'an, kisah Nabi Musa AS menempati porsi yang paling banyak disebut. Nama beliau disebutkan lebih dari 136 kali dalam 34 surah yang berbeda — sebuah angka yang tidak dimiliki oleh nabi mana pun selain beliau. Tentu ini bukan kebetulan.
Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal." (QS. Yusuf: 111)
Kisah Nabi Musa adalah cermin yang memantulkan pelajaran tentang keteguhan hati seorang hamba di hadapan kekuasaan yang zalim, tentang bagaimana iman mampu menembus tembok ketakutan, dan bagaimana pertolongan Allah selalu hadir tepat pada waktunya — tidak lebih cepat, tidak pula terlambat.
Mari kita telusuri perjalanan luar biasa ini bersama-sama, dengan niat untuk mengambil hikmah, bukan sekadar mengulang cerita.
Awal Mula: Bayi yang Diselamatkan Sungai Nil
Kisah Nabi Musa AS dimulai jauh sebelum beliau berbicara atas nama Allah. Dimulai dari sebuah bayi mungil yang diapungkan di atas sungai Nil oleh tangan seorang ibu yang patah hati — namun kukuh dalam kepercayaannya kepada Sang Pencipta.
Fir'aun, raja Mesir kala itu, adalah seorang penguasa yang bukan hanya zalim tetapi juga paranoid. Ramalan dari para ahli nujumnya menyebutkan bahwa akan lahir seorang anak laki-laki dari kalangan Bani Israil yang kelak akan meruntuhkan kekuasaannya. Maka dikeluarkanlah titah: setiap bayi laki-laki dari Bani Israil harus dibunuh.
Di tengah kepanikan itu, seorang ibu bernama Yukabid — atau dalam sebagian riwayat disebut Ayarsha — menerima ilham dari Allah:
"Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa: 'Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan jangan (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.'" (QS. Al-Qashash: 7)
Bayangkan keadaan itu. Seorang ibu harus melepaskan anaknya ke arus sungai yang tidak bisa diprediksi, dengan iman sebagai satu-satunya pelampung. Inilah titik awal dari perjalanan panjang yang penuh keajaiban.
Bayi Musa pun hanyut, dan takdir Allah mengantarkannya langsung ke istana Fir'aun. Ironi yang indah: sang raja yang ingin membunuh Musa, justru menjadi orang yang membesarkannya. Sang permaisuri, Asiyah, jatuh hati kepada bayi itu dan memohon kepada Fir'aun untuk memeliharanya:
"Dan berkatalah istri Fir'aun: '(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak.'" (QS. Al-Qashash: 9)
Dan lebih menakjubkan lagi — bayi Musa menolak disusui oleh perempuan manapun di istana itu. Akhirnya, atas usul kakak Musa yang berhasil menyusup ke istana, sang ibu kandung dipanggil kembali. Jadilah seorang ibu yang menyusui anaknya sendiri — di istana musuhnya — dan mendapat bayaran untuk itu. Rencana Allah sungguh tak pernah bisa dikira oleh siapa pun.
Masa Muda: Keberanian Berujung Pengasingan
Musa tumbuh dewasa dalam kemewahan istana, namun nuraninya tidak pernah menjadi bagian dari istana itu. Ia tahu dirinya berasal dari Bani Israil — kaum yang diperbudak dan dizalimi.
Suatu hari, di jalan kota, ia menyaksikan seorang lelaki dari kaumnya sedang diperlakukan semena-mena oleh seorang bangsa Mesir. Tanpa pikir panjang, Musa menengahinya. Dalam satu pukulan yang tidak disengaja untuk membunuh, orang Mesir itu pun jatuh dan meninggal.
Musa terguncang.
"Musa berdoa: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu ampunilah aku.' Maka Allah mengampuninya. Sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Qashash: 16)
Esok harinya, kabar pembunuhan itu telah menyebar. Fir'aun memerintahkan penangkapan Musa. Seorang lelaki yang bersimpati pun memperingatkannya — dan Musa pun memilih untuk melarikan diri, meninggalkan kemewahan istana yang ia kenal sejak bayi.
Ia berjalan seorang diri, tanpa arah pasti, menuju negeri Madyan. Perjalanan yang melelahkan, penuh ketidakpastian. Namun di sinilah Musa belajar sesuatu yang tidak bisa diajarkan oleh kemewahan istana: betapa berartinya pertolongan Allah ketika seseorang benar-benar tidak memiliki siapa-siapa.
Di Madyan: Menemukan Ketenangan, Keluarga, dan Bekal Hidup
Di Madyan, Musa duduk kelelahan di dekat sebuah sumur. Di sana ia menyaksikan dua perempuan yang kesulitan memberi minum ternak mereka karena terdesak oleh kerumunan lelaki. Tanpa diminta, Musa bangkit membantu.
Sikap menolong ini — yang lahir bukan dari pamrih, melainkan dari fitrah yang baik — menjadi pintu rezeki yang tak terduga. Ayah kedua perempuan itu, seorang lelaki saleh (dalam banyak riwayat disebut sebagai Nabi Syuaib AS), mengundang Musa ke rumahnya dan menawarkan kesempatan bekerja sekaligus menikah dengan salah satu putrinya.
Musa pun menetap di Madyan selama delapan hingga sepuluh tahun. Di sana ia belajar menggembala, bercocok tanam, bersabar dalam kesederhanaan, dan membangun keluarga. Periode ini adalah sekolah kehidupan yang menyiapkan Musa untuk tugas besar yang menanti.
Lembah Thuwa: Saat Langit Berbicara
Setelah masa pengabdian di Madyan selesai, Musa memutuskan pulang membawa keluarganya. Di tengah perjalanan, di malam yang dingin, ia melihat cahaya di kejauhan. Ia berkata kepada keluarganya, "Tunggulah di sini, aku melihat api. Mudah-mudahan aku dapat membawa kabar darinya, atau sebuah bara api agar kalian dapat berdiang."
Namun yang ia temukan bukan sekadar api. Di Lembah Thuwa yang suci itu, Allah SWT berbicara langsung kepadanya:
"Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: 'Hai Musa! Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.'" (QS. Thaha: 11-14)
Sebuah momen yang tak tergambarkan oleh kata-kata. Seorang manusia — dalam keadaan biasa, malam hari, sedang dalam perjalanan — tiba-tiba berada di hadapan kalam Allah yang terang benderang. Di sini Musa menerima dua mukjizat: tongkat yang bisa berubah menjadi ular, dan tangan yang bercahaya. Dan di sini pula ia menerima tugas yang beratnya menandingi gunung: hadapi Fir'aun.
Menghadap Fir'aun: Keberanian yang Berakar pada Iman
Musa tidak serta-merta terjun sendirian. Ia memohon kepada Allah agar kakaknya, Harun AS, turut menyertai:
"Berkata Musa: 'Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku.'" (QS. Thaha: 25-30)
Doa ini adalah salah satu doa paling agung dalam Al-Qur'an. Ia mengajarkan kita bahwa keberanian sejati bukan berarti bebas dari rasa takut — melainkan memilih untuk melangkah meski rasa takut itu ada. Dan cara seorang mukmin menghadapi ketakutan adalah dengan berdoa, memohon kekuatan dari Zat yang Mahakuat.
Musa dan Harun pun menghadap Fir'aun. Tidak dengan pasukan, tidak dengan pedang — hanya dengan kebenaran dan mukjizat dari Tuhan semesta alam. Fir'aun, tentu saja, tidak mudah menyerah. Ia mengumpulkan para penyihir terbaik dari seluruh negeri untuk menandingi Musa.
Namun ketika tongkat Musa menelan semua ular sihir para penyihir itu, sesuatu yang mengagumkan terjadi: para penyihir itu justru bersujud, menyatakan iman mereka kepada Allah. Mereka yang paling ahli dalam tipuan justru menjadi orang-orang pertama yang mengenali kebenaran ketika melihatnya.
Azab Demi Azab: Peringatan yang Diabaikan
Fir'aun tidak bergeming. Maka Allah SWT menurunkan serangkaian azab sebagai peringatan: banjir, belalang, kutu, katak, hingga darah yang mengalir dari sumber air. Setiap kali azab datang, Fir'aun memohon kepada Musa untuk mendoakan agar azab itu berlalu, berjanji akan melepaskan Bani Israil. Namun setiap kali azab berlalu, ia kembali ingkar.
Inilah pola orang yang hatinya telah dikunci: tunduk dalam kesulitan, sombong dalam kelapangan.
Laut Merah: Klimaks yang Tak Terlupakan
Tibalah malam yang menentukan. Musa memimpin Bani Israil meninggalkan Mesir dalam kegelapan malam. Namun Fir'aun segera mengerahkan pasukannya yang besar untuk mengejar. Bani Israil pun terjepit: di depan laut, di belakang tentara Fir'aun.
Kepanikan melanda. Banyak yang berteriak, "Kita pasti tertangkap!" Namun Musa tetap tenang dengan keyakinan yang luar biasa:
"Musa menjawab: 'Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.'" (QS. Al-Syu'ara: 62)
Dan Allah pun menepati janji-Nya. Tongkat Musa dipukulkan ke laut — dan laut itu terbelah, membentuk dua dinding air yang berdiri tegak di kiri dan kanan, menyisakan jalan kering di tengahnya.
Bani Israil menyeberang dengan selamat. Fir'aun dan pasukannya mengejar masuk — dan laut itu pun kembali menutup, menenggelamkan mereka semua. Di saat-saat terakhirnya, Fir'aun berteriak menyatakan iman. Namun taubat di ujung sakaratul maut tidak diterima.
Allah pun berfirman:
"Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu." (QS. Yunus: 92)
Dan sungguh menakjubkan — mumi yang diyakini sebagai Fir'aun Ramesses II ditemukan dalam kondisi terpelihara, menjadi saksi bisu kebenaran firman Allah hingga hari ini.
Hikmah dari Perjalanan Nabi Musa
Kisah Nabi Musa bukanlah sekadar sejarah. Ia adalah panduan hidup yang tetap relevan di setiap zaman.
Pertama, iman yang benar melahirkan keberanian. Ketika Musa berkata "sesungguhnya Tuhanku bersamaku," ia tidak sedang meremehkan bahaya. Ia sedang menyandarkan dirinya kepada Zat yang mengendalikan segala bahaya.
Kedua, pertolongan Allah datang dalam bentuk yang tidak kita bayangkan. Bayi yang diapungkan ke sungai justru selamat di istana musuh. Inilah cara Allah bekerja — melampaui logika manusia.
Ketiga, kezaliman selalu berakhir. Fir'aun yang memiliki tentara terbesar, istana termegah, dan kekuasaan mutlak — lenyap dalam satu malam. Sementara Musa, yang memulai perjalanan sebagai buron tanpa bekal, menjadi manusia yang namanya dikenang sepanjang zaman.
Keempat, setiap kesulitan adalah persiapan. Tahun-tahun Musa di Madyan bukan pembuangan — itu adalah sekolah. Allah tidak pernah menyia-nyiakan waktu seorang hamba yang berserah.
Penutup
Perjalanan Nabi Musa AS adalah salah satu narasi terbesar dalam sejarah kemanusiaan. Ia bukan hanya kisah tentang mukjizat-mukjizat yang spektakuler, melainkan tentang seorang manusia yang — seperti kita — pernah takut, pernah ragu, pernah berlari. Namun ia selalu kembali kepada Allah, dan Allah tidak pernah meninggalkannya.
Di setiap lembah Thuwa dalam hidup kita — setiap persimpangan yang berat, setiap beban yang terasa terlalu besar — kisah ini hadir mengingatkan: Allah yang berbicara kepada Musa di tengah padang adalah Allah yang sama yang mendengar doa kita hari ini.
"Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk." (QS. Al-Baqarah: 45)R
Referensi
-
Al-Qur'an Al-Karim — QS. Al-Qashash (28): 7-28; QS. Thaha (20): 1-98; QS. Al-Syu'ara (26): 10-68; QS. Yunus (10): 75-92; QS. Al-Baqarah (2): 49-61; QS. Yusuf (12): 111
-
Ibnu Katsir, Ismail bin Umar — Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim (Tafsir Ibnu Katsir), Jilid 3 & 6. Dar Thayyibah, Riyadh.
-
Hamka (Abdul Malik Karim Amrullah) — Tafsir Al-Azhar, Jilid 6-7. Panjimas, Jakarta.
-
Ibnu Katsir, Ismail bin Umar — Al-Bidayah wa An-Nihayah, Jilid 1. Dar Hijr, Kairo. (Kisah para nabi secara kronologis)
-
Al-Mubarakfuri, Shafiyyurrahman — Al-Mishbah Al-Munir fi Tahdzib Tafsir Ibn Katsir. Terjemahan: Kisah Para Nabi. Pustaka Al-Kautsar, Jakarta.
-
Said Hawwa — Al-Asas fi At-Tafsir, Jilid 6. Dar As-Salam, Kairo.
-
Quraish Shihab, M. — Tafsir Al-Mishbah, Vol. 9 & 10. Lentera Hati, Jakarta, 2002.
-
Al-Munajjid, Muhammad Salih — Qishash Al-Anbiya'. Islam Q&A (islamqa.info).
Artikel ini disusun sebagai bahan renungan dan pengajaran. Seluruh ayat Al-Qur'an yang dikutip bersumber dari terjemahan resmi Kementerian Agama Republik Indonesia.

0 Comments